MEMAKAI NISBAT AS-SALAFY
Menggunakan nama As-Salafy jika sesuai hakekatnya, maka tidaklah mengapa. Adapun jika hanya sekedar pengakuan, maka tidak boleh baginya menggunakan nama As-Salafy, karena dia bukan di atas Manhaj Salaf.
Maka orang-orang Al-Asy'ariyah contohnya berkata, "Kami adalah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah." Ini tidak benar, karena pemahaman yang mereka miliki bukanlah Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
Demikian pula orang-orang Mu'tazilah menamakan dirinya dengan Al-Muwahhidin (orang-orang bertauhid).

🌹 Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila
🌹 Sedang Laila tidak mengakui hal itu bagi mereka
Jadi, orang yang mengaku bahwa dia berada di atas Ahlus Sunnah Wal Jama'ah maka akan mengikuti jalan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihinya.
Adapun jika dia mengumpulkan antara "biawak dan ikan paus" -menurut istilah orang- (yakni, ingin mengumpulkan hewan darat dan hewan laut) atau dia mau mengumpulkan antara api dengan air dalam suatu daun timbangan, maka ini tidak mungkin.
Maka tidak akan bersatu Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dengan Madzhabnya orang-orang yang menyelisihi mereka, seperti Khawarij, Mu'tazilah, dan hizbiyyun yang disebut oleh kebanyakan orang dengan "Muslim Masa Kini", yaitu orang yang mau mengumpulkan kesesatan-kesesatan orang-orang di zaman ini bersama Manhaj Salaf.
Maka tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki awalnya. Walhasil, harus ada pembedaan dan penyaringan.
(Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah An As'ilah Al-Manahij Al-Jadidah hal.36-40)
Jadi, menamakan diri dengan As-Salafy ini tidaklah mengapa, dengan syarat seseorang berada di atas manhaj dan aqidah Salaf.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
"Tidakada cela bagi siapa yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib hal itu diterima secara sepakat karena sesungguhnya manhaj Salaf tidak ada di dalamnya kecuali kebenaran."
(Dalam Majmu' Al-Fatawa 4/149)
Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya,
"Bagaimana pandangan anda tentang orang yang menamakan diri dengan As-Salafy atau Al-Atsary, apakah itu bentuk tazkiyah (penyucian diri) ?"
Asy-Syaikh bin Baz rahimahullah menjawab,
"Jika dia benar bahwa dia adalah Atsary atau Salafy, maka tidak mengapa, seperti para Salaf dahulu berkata, 'fulan Salafy, fulan Atsary.' Ini adalah tazkiyah yang harus ada, tazkiyah yang wajib."
(Kaset Ceramah Haqqul Muslim oleh Asy-Syaikh Abdul Azizi bin Baz rahimahullah)
Menggunakan nama As-Salafy jika sesuai hakekatnya, maka tidaklah mengapa. Adapun jika hanya sekedar pengakuan, maka tidak boleh baginya menggunakan nama As-Salafy, karena dia bukan di atas Manhaj Salaf.
Maka orang-orang Al-Asy'ariyah contohnya berkata, "Kami adalah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah." Ini tidak benar, karena pemahaman yang mereka miliki bukanlah Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
Demikian pula orang-orang Mu'tazilah menamakan dirinya dengan Al-Muwahhidin (orang-orang bertauhid).
🌹 Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila
🌹 Sedang Laila tidak mengakui hal itu bagi mereka
Jadi, orang yang mengaku bahwa dia berada di atas Ahlus Sunnah Wal Jama'ah maka akan mengikuti jalan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihinya.
Adapun jika dia mengumpulkan antara "biawak dan ikan paus" -menurut istilah orang- (yakni, ingin mengumpulkan hewan darat dan hewan laut) atau dia mau mengumpulkan antara api dengan air dalam suatu daun timbangan, maka ini tidak mungkin.
Maka tidak akan bersatu Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dengan Madzhabnya orang-orang yang menyelisihi mereka, seperti Khawarij, Mu'tazilah, dan hizbiyyun yang disebut oleh kebanyakan orang dengan "Muslim Masa Kini", yaitu orang yang mau mengumpulkan kesesatan-kesesatan orang-orang di zaman ini bersama Manhaj Salaf.
Maka tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki awalnya. Walhasil, harus ada pembedaan dan penyaringan.
(Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah An As'ilah Al-Manahij Al-Jadidah hal.36-40)
Jadi, menamakan diri dengan As-Salafy ini tidaklah mengapa, dengan syarat seseorang berada di atas manhaj dan aqidah Salaf.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
"Tidakada cela bagi siapa yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib hal itu diterima secara sepakat karena sesungguhnya manhaj Salaf tidak ada di dalamnya kecuali kebenaran."
(Dalam Majmu' Al-Fatawa 4/149)
Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya,
"Bagaimana pandangan anda tentang orang yang menamakan diri dengan As-Salafy atau Al-Atsary, apakah itu bentuk tazkiyah (penyucian diri) ?"
Asy-Syaikh bin Baz rahimahullah menjawab,
"Jika dia benar bahwa dia adalah Atsary atau Salafy, maka tidak mengapa, seperti para Salaf dahulu berkata, 'fulan Salafy, fulan Atsary.' Ini adalah tazkiyah yang harus ada, tazkiyah yang wajib."
(Kaset Ceramah Haqqul Muslim oleh Asy-Syaikh Abdul Azizi bin Baz rahimahullah)
